BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA TEKS PUISI 3.16 SMA KELAS X

Contoh Teks (Fakta)

Berikut ini contoh puisi.
TITIP RINDU BUAT AYAH

Karya Ebiet G. Ade

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm…
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahanEngkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

B. Pengertian Teks (Konsep)
Teks di atas disebut sebuah puisi. Disebut puisi karena disajikan dalam bahasa yang indah dan maknanya tidak sebenarnya dan mendalam. Selain itu, teks di atas memiliki rangkaian kata-kata yang menggambarkan perasaan penulis (penyairnya). Oleh karena itu, yang dimaksud dengan puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan bayangan dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya.
Mendemonstrasikan puisi
a.         Membacakan Puisi
Puisi tidak hanya dinikmati dengan membaca sendirian tapi bisa juga dibacakan.Membacakan puisi adalah menyampaikan karya puisi dengan bahasa lisan. Istilahnya
sama dengan deklamasi. Seorang pembaca puisi yang hebat mampu menjiwai puisi yang dibacakan dengan baik. Oleh karena itu, pendengar akan dapat merasakan suasana puisi tersebut serta mampu menangkap makna puisi yang disampaikan penyairnya. Hal itu akan tercapai ketika pembaca puisi tidak hanya mengandalkan permainan vokal tetapi juga memerhatikan ekspresi, intonasi, dan gerakan tubuhnya saat membaca puisi.
i.      Vokal
Suara yang dihasilkan harus benar. Salah satu unsur dalam vokal ialah artikulasi (kejelasan pengucapan). Kejelasan artikulasi dalam mendemonstrasikanpuisi sangat dibutuhkan. Bunyi vokal seperti /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ai/, /au/, dan sebagainya harus jelas terdengar, demikian pula dengan bunyi-bunyi konsonan.
ii. Ekspresi
Ekspresi ialah pengungkapan atau usaha menyatakan (yaitu memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, dan perasaan). Ekspresi mimik atau perubahan raut muka harus ada tapi haruslah sesuai dengan kebutuhan dalam menampilkan gagasan puisi secara tepat.
iii. Intonasi (tekanan dinamik dan tekanan tempo)
Intonasi ialah ketepatan penyajian dalam menentukan keras-lemahnya pengucapan suatu kata. Intonasi terbagi menjadi dua yaitu tekanan dinamik (tekanan pada kata-kata yang dianggap penting) dan teknanan tempo (cepat lambat pengucapan suku kata atau kata).
TITIP RINDU BUAT AYAH

Karya Ebiet G. Ade

Di matamu/ masih tersimpan/ selaksa peristiwa//
Benturan dan hempasan/ terpahat di keningmu//
Kau nampak tua dan lelah, keringat /mengucur deras//
namun kau/ tetap tabah// hm…
Meski nafasmu /kadang tersengal/
memikul beban/yang makin sarat//
kau tetap/ bertahan//Engkau/ telah mengerti /hitam dan merah/ jalan ini//
Keriput/ tulang pipimu/ gambaran perjuangan//
Bahumu/ yang dulu kekar, legam/ terbakar matahari//
kini/kurus dan terbungkuk// hm…
Namun/ semangat/ tak pernah pudar//
meski langkahmu/ kadang gemetar//
kau/ tetap setia//

Ayah, dalam hening/ sepi /kurindu//
untuk/ menuai padi/ milik kita//
Tapi kerinduan/ tinggal/ hanya kerinduan//
Anakmu sekarang/ banyak menanggung beban//Engkau/ telah mengerti/ hitam dan merah/ jalan ini//
Keriput tulang pipimu/ gambaran perjuangan//
Bahumu/ yang dulu kekar, legam terbakar/ matahari//
kini kurus/ dan terbungkuk// hm…
Namun/ semangat/ tak pernah pudar//
meski/ langkahmu/ kadang gemetar//
kau/ tetap setia//

b.    Memusikalisasikan puisi
Puisi juga dapat dinyanyikan dengan iringan musik. Itulah yang disebut dengan musikalisasi puisi. Contohnya puisi “Titip Rindu buat Ayah” bisa dinyanyikan dan menjadi lagu popular. Dengan demikian, memusikalisasikan puisi adalah menyanyikan puisi dengan diiringi musik, dapat berupa  iringan musik yang lengkap maupun iringan salah satu jenis alat musik.Musikalisasi puisi juga bisa merupakan pembacaan puisi diiringi musik atau gabungan antara keduanya.
C.  Ciri-ciri Teks (Prinsip)
1.      Fungsi
             Setelah membaca puisi “Titip Rindu buat Ayah”, kita merasa senang dengan keindahan bahasa yang digunakannya. Misalnya:  // Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa // Benturan dan hempasan terpahat di keningmu//.  Dengan demikian, ternyata puisi dapat berfungsi menghibur pembacanya.
             Selain itu, puisi mampu membuat pembaca merenung dan memperbaiki prilakunya.  Puisi “Titip Rindu buat Ayah”, mampu membuat pembaca merenungi perubahan fisik ayah yang semakin tua karena berjuang keras membesarkan anaknya. Pembaca menjadi makin sayang terhadap ayah apalagi kalau mengingat keriputnya kening, kulit, dan bungkuknya punggung karena perjuangannya membesarkan anak. Perenungan dan pencerahan jiwa itu merupakan fungsi puisi.
2.      Struktur
            Jika diperhatikan dan dicermati kembali puisi-puisi yang telah dibaca, di dalamnya terdapat struktur yang membangunnya. Contoh dalam puisi “Titip Rindu buat Ayah” terdapat struktur/bagian  yang membangunnya, yaitu :
a.       Terdapat baris-baris yang mana baris ini tidak sama dengan baris yang biasa dikenal dalam teks lain. Dalam puisi, baris ini disebut larik. Contoh puisi di atas terdiri dari 25 larik.
b.      Terdapat kumpulan larik yang memiliki kesatuan makna yang disebut bait. Dalam contoh puisi di atas terdapat empat kumpulan larik. Dengan demikian, puisi tersebut memiliki empat bait.
c.       Larik-larik puisi dari awal sampai akhir tampak membentuk tipe gambar tertentu. Contoh puisi di atas membentuk segi empat yang bisa dilihat dan dicermati. Itulah tipografi puisi yang bisa memberi makna tambahan dan bentuknya bisa didapati pada jenis puisi konkret. Tipografi bentuknya bermacam-macam antara lain berbentuk grafis, kaligrafi, kerucut dan sebagainya.
3.      Kebahasaan
Ciri khas kebahasaan puisi yang membedakannya dengan jenis teks lain yaitu:
a.       Menggunakan majas metafora
     Puisi mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung sehingga penyair menggunakan majas metafora untuk menggambarkan maksudnya tersebut. Salah satunya adalah majas metafora. Metafora merupakan bahasa figuratif yangmemperbandingkan suatu hal dengan hal lainya yang pada dasarnya tidak serupa. Contoh : Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
b.      Menggunakan majas hiperbola
contohnya: hiperbola digunakan untuk menyatakan begitu beratnya beban yang harus dipikul oleh ayah yang dilukiskan dengan /memikul beban yang makin sarat/.
c.       Menggunakan kata konkret
dalam puisi, biasanya pengarang menggunakan kata konkret untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca. Dalam contoh puisi di atas terdapat dalam larik /Benturan dan hempasan/ terpahat di keningmu//
D.  Prosedur Pembelajaran (sesuai KD)
1.      Mengidentifikasi Suasana, Tema, dan Makna Puisi
Sebelum mengidentifikasi komponen penting dalam puisi terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menentukan komponen penting puisi, yaitu :
a.       suasana dalam puisi yang dibacakan;
langkah-langkah yang dilakukan agar mampu menentukann suasana dalam puisi yang dibacakan yaitu mencermati puisi dengan saksama. Ketika mencermati tersebut, perhatikan juga pilihan kata (diksi) dalam puisi yang dibaca untuk mengetahui isi puisi.  Diantara kata-kata atau larik-larik yang membangun puisi itu ada yang menyentuh perasaan maka  larik-larik yang membuat perasaan tersentuh itu dicatat. Kemudian timbullah perasaan setelah mendengarkan puisi tersebut.Perasaan itu bisa berupa perasaan sedih, marah, bangga, dan sebagainya. Dengan begitu, suasana sudah dapat ditentukan.
b.      Tema dalam puisi,
Dalam menentukan tema puisi, terdapat prosedur yang bisa dilakukan yaitu dengan merunut kata-kata yang berulang. Kata-kata yang berulang itu merupakan inti puisi. Akhirnya  inti puisi yang merupakan tema dapat disimpulkan dengan menyertakan alasan-alasan yang mendukung tema.
c.       Makna dalam puisi,
Ketika hendak menentukan makna puisi, langkah-langkah berikut ini akan membantu yaitu pertama kali carilah larik-larik yang mendukung makna. Kemudian maknai masing-masing larik tersebut. Berdasarkan makna larik-larik tersebut dapat disimpulkan makna puisi secara utuh.

2.  Cara Membacakan Puisi
Selain mengidentifikasi komponen puisi, terkadang perlu membaca puisi untuk lebih memahami puisi. Agar penjiwaan, ekspresif, dan volume suara tepat dan mengena saat pembacaan puisi, langkah awal yang harus dan mutlak dilakukan adalah membaca dan memahami isi puisi. Pemahaman terhadap isi puisi ini tidak hanya untuk mendapatkan tafsir makna terhadap puisi yang akan dibacakan melainkan juga untuk menentukan bagaimana lafal, nada, tekanan serta intonasi diucapkan saat pembacaan puisi.
Memusikalisasikan Puisi
Sebelum memusikalisasikan atau menyanyikan puisi dengan diiringi musik, lakukanlah langkah-langkah sebagai berikut :
  1. pahamilah  suasana, tema, dan makna puisi tersebut
Pemahaman ini didapatkan setelah mengidentifikasi komponen puisi yaitu suasana, tema dan makna puisi.
  1. Setelah memahami komponen puisi, buatlah aransemen sederhana berdasarkan suasana, tema, dan makna puisi tersebut.
  2. Kemudian berlatihlah menyanyikan puisi tersebut dengan iringan aransemen yang telah dibuat.
2.      Menganalisis unsur pembangun puisi
Untuk menganalisis unsur pembangun puisi, ada beberapa langkah yang harus dilakukan:
a.       Memahami makna judul
Pertama kali yang dibaca dalam puisi adalah judul. Judul merupakan identitas atau cap sebuah puisi. Biasanya judul sudah memberikan gambaran isi sebuah puisi secara garis besar. Mursal Esten mengibaratkan judul sebagai sebuah lubang kunci untuk menengok makna keseluruhan puisi itu. Bahkan melalui judul tersebut dapat terbuka makna yang ada dalam sebuah puisiUntuk memahami makna sebuah judul, harus dicari dulu makna lugasnya. Usahakan  memahami makna kata, frase, atau kalimat demi kalimat. Untuk mencari makna judul sebuah puisi, sebaiknya menggunakan makna baku terlebih dahulu seperti yang ada dalam kamus. Setelah itu baru mencari makna tambahannya.
  1. Memahami Makna Kata Kunci
Dalam setiap puisi terdapat beberapa kata yang menentukan makna puisi itu. Kata-kata seperti itu dinamakan kata kunci. Kata kunci adalah kata yang sering diulang penyair dalam puisinya, misalnya kata yang menunjukan waktu dan tempat, kata-kata asing, atau kata-kata yang sengaja diberi perhatian khusus oleh penyair dengan memberi garis bawah, mencetak miring, dan sebagainya.
Makna kata dalam sebuah puisi meliputi makna lugas atau makna leksikal, makna citraan atau makna imaji, dan makna lambang. Jadi untuk memahami puisi, ketiga makna tersebut harus diungkapkan.
i.       Makna Lugas
Makna lugas adalah sebuah kata, frase, atau kalimat yang maknanya sesuai dengan makna leksikal atau makna yang terdapat dalam kamus. Beberapa kata  mungkin perlu dicari maknanya di dalam kamus agar makna kata tersebut bisa dipahami dengan baik.
ii.      Makna Citraan atau Makna Imaji
Dalam memilih sebuah kata, seorang penyair tidak hanya bermaksud menyampaikan makna lugas saja. Lebih dari itu, penyair membentuk citraan atau imaji tertentu pada pikiran pembacanya. Makna yang ditimbulkan itu disebut makna citraan atau makna imajis.
iii.       Makna Lambang
Penyair seringkali memberi beban pada kata tertentu melebihi makna yang biasa dikandung makna kata tersebut. Dalam puisi, sebuah kata dapat saja merupakan lambang dari sesuatu  di samping memiliki makna yang biasa. Beban tambahan itu disebut makna lambang sebuah kata. Pembaca harus berupaya untuk menyingkapkan makna lambang sebuah kata dalam puisi dengan beberapa kemungkinan yang ada.
  1.  Mengusut Rujukan Kata Ganti
Penyair sering menggunaka kata ganti, kata penyapa, atau nama seseorang dalam puisinya. Penggunaan kata-kata tersebut sering secara tiba-tiba, tanpa diberi tahu siapa yang dirujuk dengan kata-kata tersebut. Pembaca puisi harus berusaha mengusut rujukan yang dimaksud penyair dengan kata-kata itu.
  1. Mempelajari Konteks Penciptaan
Kadang-kadang untuk memahami puisi tidak cukup hanya dengan membaca apa yang tersurat dalam puisi, tetapi juga perlu mempelajari hal-hal yang berada di luar puisi tersebut. Hal-hal tersebut misalnya penyair, riwayat hidup penyair, pandangan hidup penyair, latar belakang penciptaan, situasi ketika puisi itu diciptakan, dan sebagainya. Semua itu disebut dengan konteks penciptaan.
  1.   Merumuskan Makna Utuh
Makna utuh sebuah puisi adalah makna keseluruhan dari puisi itu, baik makna tersurat, tersirat, maupun yang berkaitan dengankonteks penciptaannya. Untuk merumuskan makna utuh dalam sebuah puisi, diperlukan makna lugas, citraan, lambang, dan konteks penciptaan puisi itu. Setelah itu baru menentukan sikap terhadap makna utuh atau pengalaman penyair. Dengan memahami sebuah puisi berarti kita telah mencoba memahami perasaan, pikiran, dan gagasan orang lain (penyair) yang dituangkan secara khas. Tanpa disadari, pengalaman dan wawasan bertambah. Dengan bertambahnya pengalaman dan wawasan itu terasa ada kepuasan batin karena telah dapat mengambil hikmah dari pengalaman orang lain.
4.      Menulis puisi
            Selain menikmati puisi karya orang lain, terkadang kita juga ingin mengungkapkan perasaan dalam bentuk puisi. Selain itu, peristiwa yang terjadi di sekitar kita mungkin begitu mengesankan sehingga menarik kita untuk menuliskannya dalam puisi. Menulis puisi yang baik harus memerhatikan unsur pembangunnya (tema, diksi, gaya bahasa, imaji, struktur, perwajahan. Dengan demikian terdapat beberapa langkah yang perlu diperhatikan
    1. Menentukan tema
Sebelum menulis puisi, pertama kali harus ditentukan temanya. Dalam hal ini, pilihlah sesuatu yang membuat kita terinspirasi. Tema merupakan suatu gagasan yang dituangkan dalam sebuah bentuk puisi. Misalkan puisi bertemakan tentang cinta, ketuhanan, kemanusiaan, keindahan alam, dan sebagainya.
    1. Menggambarkan Suasana Puisi
Setelah itu, perlu digambarkan suasana puisi yang akan dibangun dalam puisi yang dibuat. Suasana puisi maksudnya adalah gambaran perasaan penyair dalam puisi. Jika suasana bahagia bahasa yang digunakan romantis, lembut, dan indah. Begitu juga sebaliknya jika suasana yang dirasakan sedang sedih, bimbang, penggunaan bahasa dalam membuat puisi menggunakan bahasa yang sinis dan keras.
    1. Mendaftar kata-kata yang sesuai
Setelah menggambarkan suasana, perlu mendaftar atau menggunakan kata-kata yang diwarnai dengan ungkapan-ungkapan yang bermakna. Misalnya ungkapan rasa sayang terhadap ayah.  Ayah, luasnya bumi tak seluas sayangku padamu.
d.                  Memilih diksi
Setelah mendaftarkan kata yang sesuai, perlu dilakukan pemilihan kata atau diksi. Pilihlah kata-kata yang memberikan nilai rasa tertentu. Selain itu, perhatikan juga makna lugas, makna citraan, dan makna lambanga setiap kata yang akan dituliskan dalam puisi.
e.                   Menulis Puisi
Setelah keempat langkah diatas telah dilakukan, maka barulah membuat sebuah puisi. Yang dimulai dari inspirasi yang telah didapat.
Daftar Pustaka
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Buku Guru Mata Pelajaran bahasa Indonesia kelas X. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Buku siswa Mata Pelajaran bahasa Indonesia kelas X. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tags: