Beranda ARTIKEL MENELAAH MAKNA PUISI SUKMAWATI SOEKARNO PUTRI “IBU INDONESIA”

MENELAAH MAKNA PUISI SUKMAWATI SOEKARNO PUTRI “IBU INDONESIA”

1251
0

FOTO. PEMBACAAN PUISI OLEH SUKMAWATI

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

(pada baris pertama penulis meyakinkan akan pembaca, bahwasanya ia minim akan pengetahuan tentang islam, seolah-olah ketika seeorang mengkritisi akan puisinya, ia mengelak bahwasanya aku hanyalah manusia yang tak paham tentang islam, ia tak tahu ajaran islam, aturan tentang islam manusia bodoh yang boleh membuat sesuatu tentang islam, dan menjadi tembok apa bila seseorang menyudutkannya)

(baris/larik kedua menjelaskan ucapannya pada baris pertama, sari konde indonesia sangatlah indah. secara kasat mata iya ini adalah adat/kebiasan dari masyarakat jawa(bangsawan) yang mengenakan konde pada hari-hari besar. disini penulis mencoba memulai alur cerita dari puisi “ibu indonesia” yang menyatakan secara jelas kebiasan tahun sekarang berbeda dengan tahun sipenulis. mengungkapkan keresahan, batin yang begejolak, pandangan penulis mulai dimunculkan)

Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu

(disini “wah-wah” sara, jelas terlihat apa hubungan nya konde dengan cadar, “baca dulu ini

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)” konde menampakkan rambut, jelas bukan perintah allah semoga pambaca memahami magsud sipenulis puisi tentang apa yang ada dalam puisi, iya mengatakan secara tidak langsung, cadar bukan budaya kita, secara tidak langsung berjilbab adalah budaya arab loeh, kita ini orang indonesia, coba anda baca artikel tentang budaya arab, “jilbab/cadar bukan budaya arab, itu adalah syariat” jelas percuma kita memojokan sipenulis puisi, toh dia sudah mengatakan “aku tak tahu syariat islam” cerdik sekali)

(baris kedua dan ketiga meyakinkan pandangan sipenulis tentang apa yang ia jelaskan pada baris pertama memakai konde adalah indah, elok dipandang, dibandingkan dengan orang yang menutup wajahnya, tak nampak, tak jelas muka raut wajahnya, itu deskripsi si penulis. yang jelas itu awal dari bait sara sipenulis)

Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

 

(pada bait ketiga Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut 
menyelaraskan/meyakinkan pandangan sipenulis terhadap bait kedua. sedikit tidak nyambung dengan apa yang diungkapkan pada bait puisi kedua, tetapi disini sipenuli mengagungkan sosok yang dituju, ie begitu menjadi inspirasi, bahwasanya ia orang yang merakyat, begitu katanya)

 

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat

(disini penulis menyuruh kita mengingat jasa-jasa pahlawan wanita, ia mengatakan siapa kita? apa budaya kita? bukan islam, itu katanya, jelas kita mulai terasa ada unsur-unsur keresahan yang amat sangat dari sipenulis, mungin ia lupa indonesia merdeka karna umat islam, baca sejarah)

Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

(ia berbangga, menyinggung siapa wanita indonesia sebenarnya, yah disini ia meyakinkan lagi, kita bukan adat arab, indonesia itu bukan seperti sekarang itu katanya, jujur kita bangga dengan indonesia yang beraneka ragam, bukan dengan menyinggung pihak tertentu)

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok

(disini penulis mengatkan “eh, kita tak tau syariat islam, jadi apa yang saya katakan jangan diambil hati”pinter banget. disini penulis memulai lagi dengan kata-kata yang membuat kita mendidih, suara kidung (suara nyanyian sangatlah elok)

Lebih merdu dari alunan azan mu

sara mulai menderu, azan ia bandingkan dengan musik, suara, lantunan “membangkitkan amarah umat islam” ia mengatakan semurni irama puja kepada illahi, kita mulai berpikir apa yang ia sembah sekarang? anda tahu jawabannya, jadi wajar kalo dia tidak tahu dengan syariat islam.

Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta

(menari adalah ibadah. kita berpikir lagi, ibadahnya seperti apa?)

Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

(disini celotehannya menjadi-jadi , apa yang ia magsud, iya berdoa saja, semoga saja sifat bencinya, dan ketidak sukaanya, mendapat hidayah, disini penulis menyatkan secara tersirat, lambang akan sesuatu menyudutkan, dan meyakinkan, lambat laun akan berubah) #tetaprapatkanbarisanuamtislam

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu

Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

(sekali lagi ia mengatakan aku bangga dengan indonesia, sejarah indonesia, dan lupa siapa yang berjuang didalamnya, mayakinkan kembali bangsa ini besar, bangsa ini luas, tetapi dia lupa kondisi yang harus ia hadapi saat ini)

#terimaksih, dan mohon maaf kalo ada kesalahan dalam menelaah dari puisi yang penuh dengan perselisihan,“ingat jangan ganggu umat islam”.

koment juga pandangan sahabat dibawah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here